Mati lagi mati lagi, mati lampu lagi

. Malam menunjukkan pukul 22.30 saat melintasi jalan kampung menuju tempat tinggal saya. Tidak seperti biasa yang ramai orang dan terang benderang. Kemarin malam lampu jalan tidak satu pun menyala. Rumah-rumah tanpa cahaya, bahkan nyala lilin tidak tampak dari jalan. Orang dan kendaraan yang melintas pun seolah sudah habis, hanya terdengar suara motor yang saya kendarai. Rasa khawatir sempat hinggap karena dari ujung ke ujung gang tidak ada seorang pun terlihat.
. Saya pun berpikir, apakah seperti ini rasanya sekitar 30 tahun lalu saat belum ada listrik. Gelap, dingin, dan sepi. Mau melajukan motor lebih cepat tapi bagaimana kalau tiba-tiba ada yang melintas di tengah gelap. Akhirnya berjalan pelan-pelan dan menikmati kesunyian yang mencekam selama sekitar 7-10 menit.
. Waktu perjalanan dari ujung gang ke ujung gang tersebut terasa lebih lama dari biasanya. Rasanya baru lega setelah sampai di ujung gang, tempat saya tinggal, simbah sudah menunggu di depan pintu gerbang. Beliau ditemani tetangga yang tinggal di komplek perumahan.
. Setelah memarkir motor, saya ngobrol sebentar dengan simbah. Ternyata mati lampu sudah sekitar satu jam sebelum saya pulang. Berarti sekitar pukul 21.30. Untunglah lampu emergency masih ada energi hasil isian yang terakhir jadi tidak bergelap-gelap sekali untuk bersiap-siap tidur.
. Nyaman sekali bisa merebahkan badan setelah satu jam berkendaraan. Karena kantuk belum begitu terasa, saya pun membaca dengan lampu seadanya. Saya jadi bertanya-tanya, kira-kira Perusahaan Listrik Negara alias PLN pernah melakukan koordinasi untuk pemadaman regional tidak ya.
. Muncul pertanyaan lagi, pernahkah PLN melakukan evaluasi waktu pemadaman listrik yang paling efektif dengan tingkat kerugian minimal bagi konsumen. Pernahkah PLN mengkaji ulang waktu pemadaman yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Andai hal itu dilakukan, mungkin pemadaman bergilir bisa lebih tepat waktunya, lebih merata, dan konsumen listrik tidak merasa dirugikan dari segi produktivitas kerja.
* Tapi, semua itu hanya sebatas pertanyaan yang mengendap di kepala yang kemudian ditulis, dan semoga ada pejabat PLN yang ikut membacanya untuk direalisasikan. *

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.